Review Profile Film The Grand Budapest Hotel (2014), Cerita Murung Di Balik Megahnya Hotel Klasik Grand Budapest
Wekepo.com – Jika ingin menonton drama kejahatan yang dibalut dengan komedi, The Grand Budapest Hotel adalah salah satu film yang patut untuk ditonton. Sutradara kenamaan Hollywood, Wes Anderson, menjadi sutradara sekaligus penulis naskah bagi film ini.
Sementara itu, empat studio yang berkolaborasi dalamproduksi film ini meliputi Fox Searchlight Pictures, Indian Paintbrush, Studio Babelsberg, serta American Empirical Pictures.
Para aktor The Grand Budapest Hotel di antaranya yakni Ralph Fiennes yang berperan selaku Monsieur Gustave H., Tony Revolori selaku Zero Moustafa saat muda, F. Murray Abraham selaku Zero Moustafa saat renta, Adrien Brody sebagai Dmitri, Willem Dafoe sebagai J. G. Jopling, serta Saoirse Ronan selaku Agatha.
Kemudian, ada pula Tilda Swinton yang berperan selaku Madame D., Edward Norton selaku Albert Henckels, Mathieu Amalric selaku Serge X, Jeff Goldblum selaku Kovacs, Harvey Keitel sebagai Ludwig, Tom Wilkinson sebagai “Penulis” saat tua, Jude Law sebagai “Penulis” saat muda, Bill Murray selaku M. Ivan, Jason Schwartzman selaku M. Jean, Léa Seydoux selaku Clotilde, dan Owen Wilson selaku M. Chuck.
| Sutradara | Wes Anderson |
| Penulis Naskah | Wes Anderson |
| Tanggal Rilis |
|
| Durasi Tayang | 100 menit |
| Asal Negara |
|
| Bahasa | English |
| Didistribusikan oleh | Fox Searchlight Pictures |
| Tema / Genre | Komedi Drama |
Berikut ini yaitu sinopsis film barat The Grand Budapest Hotel.
Review Sinopsis Film The Grand Budapest Hotel
Di awal film The Grand Budapest Hotel, nampak seorang anak perempuan yang berjalan menghampiri tugu penghormatan yang ditujukan untuk seorang penulis ternama yang dalam film ini cuma disebut sebagai “Penulis”. Anak wanita itu menjinjing buku paling terkenal karya penulis itu, yang berjudul “The Grand Budapest Hotel”.
Suara seorang narator kemudian mulai mengambil alih film dan membawa penonton kembali ke kurun lalu. Narator ini tidak lain yaitu sosok dari sang “Penulis” novel itu sendiri.
Sang narator lalu mulai menceritakan cerita hidupnya yang dibuka dari ketika saat beliau telah menyelesaikan novelnya itu ialah pada tahun 1985. Sang narator mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi dalam novelnya itu didasarkan pada sebuah kisah yang ia dengar dari seseorang dalam kunjungannya ke sebuah hotel belasan tahun sebelumnya.
Pada tahun 1968, narator alias “Penulis” itu datang dan bermalam di sebuah hotel besar yang berjulukan The Grand Budapest Hotel. Hotel ini terletak di antara puncak pegunungan bersalju yang cuek dan amat terpencil di suatu negara fiktif bernama Republik Zubrowka.
Untuk mencapainya, pengunjung mampu menggunakan semacam gondola. Meskipun, hotel tersebut juga bekerjsama bisa diraih melalui perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan biasa mirip mobil.
Dari penampilannya, The Grand Budapest Hotel itu nampak tidak lagi terurus. Rupanya, hotel tersebut dahulu pernah berjaya dan menjadi bangunan yang sungguh megah. Namun kini, hotel itu tak lagi banyak didatangi dan sangat sepi pengunjung.
Dalam kunjungannya ke The Grand Budapest Hotel, sang “Penulis” bertemu dengan pemilik hotel itu, seorang laki-laki tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Zero Moustafa. Meski menjadi pemilik hotel, Zero anehnya justru lebih memilih untuk tidur di kamar pegawai yang sempit.
Sang “Penulis” pun merasa kepincut untuk menggali sejarah The Grand Budapest Hotel dan latar belakang Zero. Akhirnya, melalui obrolan singkat mereka di kamar pemandian, Zero memanggil sang “Penulis” untuk makan malam bersamanya kalau dia memang ingin mengenali kisah lebih lanjut wacana Zero dan hotel itu.
Pada makan malam mereka, Zero mulai berkilas balik tentang era mudanya. Pada tahun 1932, Zero mulai melakukan pekerjaan di The Grand Budapest Hotel sebagai lobby boy yang bertugas untuk melayani keperluan dan menolong para hadirin hotel selama kunjungan mereka.

Atasan Zero sekaligus concierge (semacam manajer) hotel itu bernama Monsieur Gustave H.. Ia yaitu seorang pria yang senantiasa berpenampilan rapi dan mempunyai moral yang tinggi.
Kepada Zero, Gustave selalu bersikap ramah dan mengayomi. Sebab, Zero yaitu pegawai muda yang setia dan berdedikasi. Itulah mengapa Gustave cukup erat dan menyukai sosok Zero dibandingkan para pegawai lain.
Gustave sendiri sudah menjalin korelasi bersahabat dengan salah satu konsumen setia hotel itu, seorang janda bau tanah kaya berjulukan Madame D. Hubungan mereka telah berlangsung selama dua puluh tahun terakhir Gustave melakukan pekerjaan di The Grand Budapest Hotel.

Suatu hari, Madame D. berkunjung mirip umumnya ke The Grand Budapest Hotel. Namun, perempuan bau tanah itu mengungkapkan kekhawatirannya pada Gustave bahwa beliau merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya dalam waktu akrab. Gustave pun berusaha menenangkan Madame D. dengan sebaik-baiknya.

Firasat Madame D. ternyata terbukti benar. Sebab, beberapa hari lalu, Gustave dan Zero mendengar bahwa Madame D. telah meninggal secara misterius.
Gustave dan Zero pun alhasil pergi ke kediaman Madame D. untuk memberi penghormatan terakhir sekaligus memberikan belasungkawa. Namun, di ketika itu juga tak usang lalu digelar program pembacaan surat wasiat terkait pembagian harta warisan Madame D..
Seluruh anggota keluarga Madame D. menunggu dengan cemas dikala pengacara keluarga mereka, Deputi Vilmos Kovacs, mulai membacakan surat wasiat itu. Namun, betapa terkejutnya mereka dikala mendengar Kovacs menyebutkan bahwa harta milik Madame D. yang paling berguna, sebuah lukisan masa Renaissance berjudul Boy with Apple, justru diwariskan pada Gustave.
Putra Madame D. yang serakah dan keji, Dmitri, lalu menyuruh biar Gustave dan Zero yang juga hadir di ruangan itu untuk ditahan. Gustave dan Zero pun dengan impulsif secepatnya melarikan diri sambil membawa pergi lukisan yang menjadi sumber duduk perkara itu.
Dmitri lalu berusaha meminta Kovacs untuk membantunya membatalkan kekuatan hukum dari surat wasiat ibunya. Tetapi, Kovacs yang jujur menolak usul Dmitri. Dmitri risikonya mengantarseorang pembunuh bayaran yang sadis bernama J. G. Jopling untuk membunuh Kovacs serta memburu Gustave dan Zero.

Sementara itu, sehabis Gustave dan Zero kembali ke The Grand Budapest Hotel, Gustave kemudian ditahan oleh para polisi atas tuduhan pembunuhan Madame D.. Gustave dijebloskan ke dalam sebuah penjara.
Namun, ketulusan hati Gustave dengan segera membuatnya mempunyai sejumlah sobat setia dari para narapidana yang tinggal di sana. Gustave dan sahabat-temannya lalu menyusun suatu planning untuk melarikan diri dari penjara itu.

Gustave meminta bantuan Zero dan kekasih Zero, Agatha, yang ialah pegawai di sebuah toko kue. Agatha menyusupkan perkakas untuk menggali dalam kue-kue elok yang ia kirimkan pada Gustave di penjara.


Dengan menggunakan perlengkapan ini, Gustave dan teman-temannya berhasil menciptakan suatu liang yang berhasil mengeluarkan mereka dari sel. Setelah melalui berbagai momen menegangkan, mereka bisa keluar dari penjara dan bebas.
Gustave dijemput oleh Zero yang sudah menunggunya dengan setia. Mereka kemudian berupaya membuktikan bahwa Gustave tidak bersalah dalam masalah ajal Madame D. dengan meminta dukungan dari organisasi para concierge hotel, The Society of the Crossed Keys.
Gustave dan Zero diarahkan dari satu concierge ke concierge lain untuk menerima pemberian. Dalam perjalanan mereka itu, keduanya terus menerus disertai oleh Jopling yang mencoba membunuh Gustave. Pada alhasil, mereka mengenali bahwa Madame D. memiliki surat wasiat kedua yang menjadi sah jikalau maut Madame D. disebabkan sebab pembunuhan.
Gustave, Zero, dan Agatha lalu kembali ke The Grand Budapest Hotel untuk mengambil lukisan Madame D. yang sebelumnya mereka sembunyikan di sana. Namun, hotel itu kini sudah dialih fungsikan menjadi markas militer untuk perang.
Agatha berpura-pura mengantar kudapan manis dan masuk ke ruangan pegawai untuk mengambil lukisan itu. Sayangnya, dalam perjalanan keluar, ia berpapasan dengan Dmitri.
Dmitri kemudian menyadari bahwa Agatha menenteng lukisan itu dan berupaya merebutnya dari Agatha. Saat mengetahui Agatha dalam ancaman, Gustave dan Zero pun turun tangan dan berusaha menolong Agatha.
Terjadi baku tembak yang hebat di dalam hotel itu antara Dmitri dan para serdadu Zubrowka. Sementara itu, dikala berupaya melarikan diri dari Dmitri, Agatha dan Zero terjatuh ke pinggiran balkon. Untungnya, mereka kemudian selamat karena mendarat di atas kotak-kotak kardus dalam mobil pengantar roti.

Ternyata, beberapa dikala lalu, surat wasiat kedua Madame D. ditemukan di balik lukisan Boy with Apple yang diperebutkan. Surat wasiat kedua ini menyebutkan bahwa jikalau Madame D. terbunuh, maka semua hartanya diwariskan pada Gustave.
Hal ini sekaligus membebaskan Gustave dari tuduhan pembunuhan yang dijatuhkan padanya. Gustave bahkan mengambil alih Madame D. yang rupanya pemilik orisinil The Grand Budapest Hotel.
Gustave menjadi salah satu orang paling kaya di Republik Zubrowka. Sementara, Zero dan Agatha jadinya menikah dengan diiringi restu Gustave.
Suatu hari, ketika mereka bertiga berpergian dengan menggunakan kereta, sekelompok prajurit masuk ke kompartemen mereka untu melaksanakan investigasi latar belakang. Saat mengetahui bahwa Zero yaitu seorang imigran, petugas itu berusaha menangkap Zero.
Tetapi, Gustave lalu menjajal membatasi penangkapan Zero dan karenanya menerima tembakan dari petugas itu sampai meninggal. Setelah kematian Gustave, Zero menjadi pewaris sah dari semua harta kekayaan milik Gustave. Tak usang lalu, Agatha serta bayi pria Agatha dan Zero juga meninggal dunia alasannya adalah sakit.
Meskipun Zero memiliki semua kekayaan dalam jumlah besar itu, dia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ia menjaga The Grand Budapest Hotel demi mengingat Agatha dan putra mereka.
Dengan berakhirnya cerita itu, makan malam Zero dengan sang “Penulis” pun rampung. Sang “penulis” itu merasa sungguh terkesan dengan cerita yang dituturkan oleh Zero. Ia pun menuliskannya dalam bentuk novel yang di kemudian hari menjadi novel terkenal.

Di bab epilog, anak perempuan yang membawa novel The Grand Budapest Hotel karangan sang “Penulis” itu nampak membaca novel tersebut di erat tugu penghormatan bagi sang “Penulis”.
Nah, itulah tadi ulasan dan sinopsis film The Grand Budapest Hotel.
Kesimpulan Review Film The Grand Budapest Hotel
Film The Grand Budapest Hotel ini memperlihatkan gaya penceritaan khas dan unik sebagaimana film-film Wes Anderson yang lain. Berbagai intrik kejahatan dalam film ini ditampilkan dengan menggunakan jenis komedi gelap yang sungguh terpelajar.
Ketegangan dalam film ini juga terasa lewat nuansa thriller yang dibawanya. Namun, hal yang paling menarik dari The Grand Budapest Hotel ialah tampilan visualnya yang sangat memanjakan mata, khususnya setiap kali kamera menyorot panorama hotel yang menjadi latar cerita dari film ini.
Sumber foto: Fox Searchlight Pictures
Posting Komentar untuk "Review Profile Film The Grand Budapest Hotel (2014), Cerita Murung Di Balik Megahnya Hotel Klasik Grand Budapest"