Review Profile Loving Vincent (2017), Film Animasi Dari Lukisan
Wekepo.com – Loving Vincent atau Love Vincent mungkin menjadi salah satu film animasi dengan kualitas visual paling menawan yang pernah diciptakan. Film ini menuturkan suatu cerita menarik yang terinspirasi dari misteri seputar kematian sosok pelukis legendaris Vincent Van Gogh.
Film barat modern 2017 ini disutradarai oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman. Bersama Jacek Dehnel, keduanya juga menulis naskah film ini.
Film ini diciptakan dengan teknik pengerjaan manual, di mana setiap bingkai dalam film dilukis secara eksklusif. Dalam produksinya, Loving Vincent melibatkan tak kurang dari 125 pelukis yang berasal dari 20 negara dengan lama pengerjaan yang memakan waktu sampai enam tahun.
Para bintang film yang terlibat dalam film Loving Vincent ialah meliputi Robert Gulaczyk yang berperan sebaga Vincent van Gogh, Jochum ten Haaf sebagai pengisi bunyi Vincent van Gogh, Douglas Booth sebagai Armand Roulin, Jerome Flynn sebagai Dr. Paul Gachet, serta Saoirse Ronan sebagai Marguerite Gachet.
Di samping itu, ada pula Helen McCrory yang berperan sebagai Louise Chevalier, Chris O’Dowd selaku Joseph Roulin, John Sessions selaku Père Tanguy, Eleanor Tomlinson sebagai Adeline Ravoux, serta Aidan Turner sebagai pria pemilik bahtera.
Detail Film
| Sutradara |
|
| Penulis Naskah |
|
| Tanggal Rilis |
|
| Durasi Tayang | 95 menit |
| Asal Negara |
|
| Bahasa | English |
Ingin tahu bagaimana jalan dongeng dari film ini? Yuk, langsung saja cek sinopsis film barat terbaik Loving Vincent berikut.
Sinopsis Film Loving Vincent – Love Vincent (2017)
Kisah kisah yang akan dibahas dalam film animasi Loving Vincent akan membicarakan ihwal kisah hidup sosok pelukis Vincent Van Gogh, film ini diceritakan dari sudut pandang tokoh lain. Cerita dalam film ini juga mengambil latar insiden yang terjadi sehabis kematian Vincent Van Gogh.
Pasca setahun berlalu setelah Vincent Van Gogh meninggal alasannya membunuh dirinya sendiri, ditemukan surat terakhir yang ditulis oleh sang maestro pelukis itu sebelum kematiannya. Surat tersebut ditujukan untuk kerabat Vincent, Theo Van Gogh, yang tinggal di kota lain.
Surat tersebut berada di tangan petugas pos Joseph Roulin yang menerka bahwa ada sesuatu yang janggal dari ajal Vincent Van Gogh. Hal ini disebabkan alasannya adalah cuma berselang beberapa minggu sebelum Vincent Van Gogh membunuh dirinya, pelukis itu mengatakan bahwa akhir-simpulan itu dia justru merasa damai dan sedang dalam suasana hati yang bagus.
Joseph menceritakan kecurigaannya ini pada putranya yang masih muda, Armand Roulin. Joseph kemudian mendelegasikan Armand untuk mengirim surat terakhir Vincent itu pada Theo Van Gogh.


Awalnya, Armand merasa keberatan dengan usul ayahnya ini. Namun, pada kesudahannya beliau baiklah dan berangkat menuju Paris untuk mengantarkan surat itu.
Sesampainya Armand di tempat maksudnya, ia justru diberitahu oleh seorang pegawai toko yang memasarkan peralatan seni bernama Père Tanguy bahwa Theo Van Gogh bergotong-royong telah meninggal dunia enam bulan sehabis akhir hayat saudaranya.
Tanguy lalu menyarankan Armand untuk pergi ke daerah Auvers-sur-Oise dan menemui seorang laki-laki yang bernama Dr. Paul Gachet. Dr. Gachet merupakan dokter yang memuat Vincent Van Gogh setelah sang pelukis simpulan menjalani perawatan dari rumah sakit jiwa sebelumnya. Dr. Gachet yang sekaligus yaitu seorang pencinta seni seperti Vincent Van Gogh juga hadir dalam program pemakaman sang pelukis.

Ketika Armand datang di kawasan berjulukan Auvers-sur-Oise yang dituju itu, beliau mendapati bahwa Dr. Gachet tidak ada di tempatnya alasannya adalah sedang berpergian untuk masalah kerja.
Pada risikonya, karena hari juga telah larut, Armand pun memutuskan untuk singgah di kota tersebut untuk malam itu. Armand datang ke tempat tinggal penginapan yang sama kawasan Vincent Van Gogh dahulu pernah sempat tinggal untuk beberapa usang.

Armand bertemu dengan pemilik rumah penginapan itu, seorang wanita bernama Adeline Ravoux. Armand menceritakan ihwal maksud kedatangannya di kota itu pada Adeline.
Adeline lalu mulai bercerita bahwa selama Vincent Van Gogh tinggal di sana, ia mengagumi sosok pelukis itu. Ketika Vincent Van Gogh meninggal dunia, Adeline mengaku bahwa beliau ikut merasa murung atas maut sang pelukis.
Adeline kemudian mengusulkan pada Armand untuk mencoba menemui seorang laki-laki pemilik bahtera kecil yang tinggal di kota itu untuk mengenali lebih banyak perihal Vincent Van Gogh. Armand pun pergi ke sungai tempat pria pemilik perahu itu bekerja.
Saat balasannya sukses menemui laki-laki itu, Armand kembali menceritakan perihal maksud kedatangannya pada pria pemilik perahu. Si laki-laki pemilik bahtera menyampaikan bahwa ia dulu sering melihat Vincent Van Gogh berinteraksi dengan anak wanita Dr. Gachet yang tertutup, Marguerite.

Merasa terpesona dengan penelusurannya yang telah berkembang jauh itu, Armand jadinya mengikuti arahan dari si pria pemilik bahtera untuk mencari Marguerite. Armand pun datang untuk mendatangi Marguerite di rumahnya.
Sekali lagi, Armand menjelaskan ihwal tujuan sebenarnya ia tiba ke kota itu pada Marguerite. Dalam obrolan Armand dengan Marguerite, gadis itu kemudian menceritakan sejumlah hal yang terjadi sebelum maut Vincent Van Gogh.

Marguerite menerangkan bahwa beberapa hari sebelum Vincent Van Gogh melakukan bunuh diri, sang pelukis itu sempat terlibat dalam suatu adu argumen dengan ayahnya. Setelah Marguerite tamat bercerita, Armand kemudian mengungkapkan pendapatnya perihal alasan yang mungkin melatarbelakangi akhir hayat Vincent Van Gogh.
Armand berpikir bahwa mampu saja berkelahi verbal yang terjadi di antara Vincent Van Gogh dan Dr. Gachet itu lah yang menjadi pemicu sang pelukis untuk membunuh dirinya. Hal ini dikarenakan dari apa yang telah didengar oleh Armand, ia merasa bahwa Vincent Van Gogh sangat akrab dengan ayah Marguerite dan menghormatinya.
Ketika mendengar pertimbangan Armand ini, Marguerite merasa kesal dan segera menyanggahnya. Menurutnya, tak mungkin insiden tubruk ekspresi itu menjadi alasan yang mampu menciptakan Vincent Van Gogh sampai tergerak untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Setelah pertemuannya dengan Marguerite, Armand pun menjadi semakin merasa penasaran dengan misteri apa yang sebetulnya meliputi maut pada Vincent Van Gogh. Ia kembali melanjutkan penelusurannya dan mendatangi aneka macam orang dan tempat di kota itu untuk mencari petunjuk.

Armand berharap mampu mendapatkan benang merah yang mampu memperlihatkan jawaban atas misteri seputar ajal Vincent Van Gogh yang ia berupaya ketahui. Penelusuran Armand alhasil mulai mengerucutkan kecurigaannya pada sosok seorang pemuda yang tinggal di daerah lokal yang bernama René Secretan.
Dari keterangan yang sukses dikumpulkan oleh Armand dari banyak sekali sumber, dia mengetahui bahwa Secretan kadang-kadang merundung dan menyerang Vincent Van Gogh saat sang pelukis itu masih hidup. Secretan juga mempunyai sebuah senapan dan acap kali tampakmenodongkan senjata itu secara asal pilih di berbagai penjuru kota dikala laki-laki itu sedang mabuk.
Kecurigaan Armand menjadi kian bertambah besar lengan berkuasa saat dia mendengar pernyataan dari petugas medis berjulukan Dr. Mazery yang sempat melakukan pemeriksaan pada mayat Vincent Van Gogh.
Dr. Mazery menjelaskan bahwa luka tembakan yang didapatkan pada Vincent Van Gogh dikala beliau meninggal tidak memperlihatkan bahwa tembakan fatal itu dilakukan dari jarak akrab. Artinya, niscaya ada orang lain yang menawan pelatuk dari jarak jauh hingga mengenai Vincent. Temuan ini pun melemahkan prasangka akhir hayat Vincent Van Gogh yang disebabkan bunuh diri.

Armand kembali menemui Marguerite, sebagai sosok yang sejauh itu menurutnya memiliki korelasi paling erat dengan Vincent Van Gogh saat sang pelukis masih hidup. Armand menuturkan hasil penyelidikannya yang mengarah pada Secretan sebagai sosok yang bertanggung jawab atas ajal Vincent Van Gogh.
Marguerite membenarkan bahwa dirinya dan Vincent Van Gogh memang sungguh erat, meski mereka tidak menjalin relasi romantis. Marguerite juga menyampaikan bahwa meski Secretan memiliki perilaku jelek, ia tidak meyakini bahwa pria itu bisa membunuh orang lain, bahkan tergolong Vincent Van Gogh.

Setelah singgah selama beberapa hari di kota itu, Dr. Gachet yang dinantikan oleh Armand pun kembali dari perjalanan dinasnya. Armand mengungkapkan pada Dr. Gachet tentang tujuan mulanya datang ke kota itu, yaitu untuk memberikan surat terakhir Vincent Van Gogh yang dialamatkan untuk Theo Van Gogh. Dr. Gachet lalu berjanji pada Armand untuk mengirimkan surat itu ke istri dari Theo Van Gogh.
Armand menetapkan untuk menanyakan eksklusif pada Dr. Gachet perihal kejadian langgar argumen di antara Dr. Gachet dan Vincent Van Gogh yang terjadi beberapa saat sebelum kematian sang pelukis itu. Dr. Gachet membenarkan bahwa beliau memang sempat beradu ekspresi dengan Vincent Van Gogh.
Menurut Dr. Gachet, dikala itu Vincent Van Gogh mengkritik Dr. Gachet yang menurutnya adalah seorang pengecut alasannya adalah tidak berani mengejar impiannya di bidang kesenian.
Didorong oleh rasa kesal, Dr. Gachet kemudian membalas kritik pedas Vincent Van Gogh itu dengan mengatakan bahwa selama ini Vincent Van Gogh tak lebih dari sekadar beban bagi saudaranya, Theo.
Sebagai seorang seniman yang tidak bisa menemukan banyak pendapatan, Vincent Van Gogh selama beberapa tahun itu banyak bergantung pada Theo, tergolong dalam problem keuangan. Dr. Gachet mengatakan pada Vincent bahwa beliau berpikir Vincent yakni argumentasi bekerjsama yang menjadikan kesehatan Theo terus memburuk.
Pada akhirnya, Dr. Gachet menyimpulkan bahwa sehabis mendengar itu, Vincent Van Gogh mungkin merasa bahwa beliau tak mau lagi menjadi beban yang memberatkan Theo dan keluarganya.
Keterangan dari Dr. Gachet seakan menjadi solusi yang membuat Armand merasa mampu memahami jauh lebih baik ihwal misteri seputar ajal Vincent Van Gogh. Armand akhirnya memutuskan untuk pulang.
Beberapa hari kemudian, Joseph dan Armand menerima suatu surat dari Johanna, istri Theo. Dalam surat itu, Johanna mengungkapkan terima kasih dikarenakan telah mengembalikan surat terakhir dari Vincent. Johanna juga melampirkan sebuah surat yang pernah diantaroleh Vincent Van Gogh pada keluarganya, yang bertuliskan “Tertanda sayang dari Vincent.”
Demikian lah ulasan dan sinopsis film barat terbaik Loving Vincent.
Kesimpulan Film Love Vincent
Loving Vincent ialah sebuah film animasi yang sungguh unik dan tak biasa. Tak cuma dari teknik pembuatannya yang memerlukan jerih payah tinggi alasannya dilukis secara manual, jalan kisah dari film ini pun menarik untuk dibarengi.
Film ini memilih untuk tidak membicarakan perihal cerita Vincent Van Gogh saat dia masih hidup dan berfokus pada rangkaian dongeng sehabis ajal sang pelukis legendaris itu. Hal ini justru membuat penonton mampu kian merasakan ironi dalam cerita hidup Vincent Van Gogh dengan lebih baik.
Sumber foto: Altitude Film Distribution
Posting Komentar untuk "Review Profile Loving Vincent (2017), Film Animasi Dari Lukisan"