Review Profile Film Freedom Writers (2007), Usaha Seorang Guru
Pendidikan bisa menjadi kunci untuk melawan aneka macam kekejian di dunia ini, tergolong rasisme. Pesan ini coba disampaikan dalam film Freedom Writers.
Freedom Writers yaitu sebuah film drama buatan Amerika Serikat yang disutradarai dan ditulis oleh Richard LaGravenese. Film ini dibuat oleh MTV Films, Jersey Films, dan 2S Films, serta didistribusikan oleh Paramount Pictures.
Film ini dibintangi oleh Hilary Swank yang berperan selaku Erin Gruwell, Patrick Dempsey sebagai Scott Casey, Scott Glenn sebagai Steve Gruwell, Imelda Staunton sebagai Margaret Campbell, John Benjamin Hickey selaku Brian Gelford, April Lee Hernández sebagai Eva Benitez, Mario sebagai Andre Bryant, Jason Finn selaku Marcus, Jaclyn Ngan sebagai Sindy Ngor, Will Morales sebagai Paco, Armand Jones selaku Grant Rice, dan Pat Carroll sebagai Miep Gies.
Berikut adalah sinopsis film Freedom Writers.
Sinopsis Film Freedom Writers 2007
Berbagai peristiwa dalam film Freedom Writers didasarkan pada kisah positif yang terjadi pada tahun 1994 di Kota Long Beach, negara bagian California, Amerika Serikat. Film ini berfokus pada cerita seorang perempuan muda berjulukan Erin Gruwell.
Erin gres saja mendapatkan pekerjaan selaku guru Bahasa Inggris di Sekolah Menengan Atas Woodrow Wilson. Sekolah ini dulunya ialah suatu sekolah terkemuka dengan reputasi yang bagus.
Tetapi, kebijakan integrasi yang dipraktekkan membuat sekolah itu risikonya menerima murid dari berbagai jenis latar belakang. Kebijakan ini menciptakan angkatan gres di sekolah itu terdiri dari siswa dengan ras yang begitu bermacam-macam.
Sayangnya, kondisi ini tak seideal mirip yang terlihat di atas kertas. Rasisme sudah sejak lama menjadi salah satu isu terbesar di kelompok warga Amerika Serikat.
Apalagi, dua tahun sebelumnya di Los Angeles, telah terjadi suatu perkara kerusuhan massa antar ras. Sejak peristiwa itu, ketegangan antar ras pun meningkat tajam.
Generasi muda diajarkan oleh orang bau tanah mereka untuk saling mencurigai dan tidak suka ras lain. Tak jarang, permusuhan antar kalangan sosial ini mengakibatkan benturan berupa kompetisi hingga perselisihan antarras.
Erin menghadapi tantangan sulit sebab beliau secara khusus ditugaskan untuk menangani angkatan gres. Kelas yang dibimbing Erin ini merupakan percampuran para siswa dari berbagai ras yang saling memusuhi satu sama lain.
Tetapi, Erin bertekad untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya. Jauh dalam lubuk hati Erin, dia meyakini bahwa ia menerima panggilan nurani sebagai guru.
Erin masuk ke kelas itu untuk mengajar di hari pertamanya dengan berdandan sangat rapi. Namun, bukan sambutan hangat yang ia peroleh. Hampir seluruh isi kelas itu memberikan ketidaksukaan mereka secara faktual pada Erin.

Salah satu siswa bahkan terang-terangan menyoroti latar belakang Erin selaku seorang wanita kulit putih. Anak-anak cukup umur yang sebagian besar berasal dari ras minoritas itu memang condong merasa sinis pada orang kulit putih.
Pemikiran para siswa itu sudah sangat lekat dengan stereotip yang mereka ketahui selama ini. Menurut mereka, orang-orang kulit putih ialah mereka yang merasa dirinya lebih superior dibanding ras lain sehingga berhak untuk menerima prioritas dalam berbagai hal di masyarakat.
Oleh karena itu, dikala Erin mulai memperkenalkan dirinya, para murid itu bersikap tak ramah padanya. Erin pun kesulitan untuk mampu menjalin kedekatan dengan para muridnya. Erin juga harus menghadapi kekacauan yang kerap terjadi karena permusuhan yang ada di antara para murid itu sendiri.

Fokus dari cerita itu beralih pada salah satu murid yang diajar oleh Erin, Eva Benitez. Eva yaitu seorang gadis Latina. Kekasihnya, Paco, juga berasal dari kelompok sosial yang serupa dengan Eva.
Suatu malam, Eva, Paco, dan sahabat mereka pergi membeli ke suatu minimarket. Di ketika yang serentak, sahabat sekelas Eva, Sindy Ngor dan kekasihnya juga sedang membeli di minimarket itu. Sindy dan kekasihnya adalah imigran dari Kamboja.

Di toko itu juga hadir Grant Rice, sobat sekolah mereka yang berlatar belakang Afrika Amerika. Ia ke sana untuk bermain suatu permainan arcade yang terdapat dalam minimarket. Tetapi, sebab kalah, beliau lalu merasa kesal dan meminta pemilik toko untuk mengembalikan uangnya.
Grant yang tidak menerima keinginannya kemudian keluar dari minimarket itu dengan gelisah. Paco yang menunggu Eva di mobil kemudian berupaya menembak Grant. Rupanya, Paco ingin membalas dendam alasannya Grant sudah mengalahkannya dalam sebuah pertengkaran besar di sekolah mereka sebelumnya.
Namun, tembakan Grant ini meleset dan beliau malah tentang kekasih Sindy sampai tewas. Eva yang menjadi salah satu orang yang berada di lokasi peristiwa pun mesti memberi kesaksian di pengadilan terkait kejadian ini. Dalam pernyataannya di pengadilan nanti, Eva berniat untuk melindungi kekasih dan sobat-temannya yang juga berasal dari komunitas masyarakat Latin itu.
Sementara itu, di kelas Erin, seorang siswa menciptakan suatu gambar yang rasis untuk menghina temannya. Erin lalu menegur siswa itu.
Erin lalu menanyakan pada para muridnya apakah mereka mengetahui perihal insiden Holocaust. Sebagai catatan, Holocaust yakni peristiwa penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi yang dilakukan selama kurun Perang Dunia II.

Para murid itu menyampaikan bahwa mereka tidak tahu. Hanya satu anak di antara mereka, seorang siswa kulit putih bernama Ben Samuels, yang mengenali tentang Holocaust.
Cerita Erin perihal Holocaust membangkitkan para murid. Mereka pun kemudian mulai memandang Erin lewat cara yang berlainan. Di segi lain, Erin juga semakin bertekad untuk mampu mengubah para muridnya itu menjadi sosok yang lebih baik.

Suatu hari, Erin menenteng setumpuk buku catatan kosong ke dalam kelas. Ia kemudian membagikannya pada murid dan meminta mereka untuk menjadikan buku itu selaku buku harian. Di buku itu, Erin ingin semoga para muridnya menuliskan tentang pengalaman mereka terkait kejahatan rasisme yang sudah dialami oleh nyaris semua siswa di kelas itu selama ini.

Tak sampai di situ, Erin lalu berniat untuk membelikan para siswa itu lebih banyak buku untuk dibaca. Ia juga ingin supaya para siswa mampu terlibat dalam lebih banyak proyek dan acara berguru.
Tetapi, itu semua membutuhkan uang dan tidak ada alokasi dana untuk banyak sekali planning Erin itu dari sekolah. Erin memutuskan untuk membayar semua ongkos itu dengan uangnya sendiri. Untuk bisa menutupi semua pengeluaran itu, dia bahkan mengambil dua pekerjaan sampingan lain.
Sementara itu di rumahnya, suami Erin mulai merasa bahwa Erin mencurahkan terlalu banyak perhatian pada pekerjaannya selaku guru. Ia merasa istrinya bahkan mulai melewatkan kehidupan personalnya sendiri dan rumah tangga mereka.
Di kelasnya, Erin memanggil sejumlah penyintas kejadian Holocaust untuk menuturkan ulang pengalaman mereka pada para murid Erin. Murid-murid nampak amat tersentuh dengan cerita penyintas Holocaust ini. Erin juga mengajak para murid di kelasnya untuk mengunjungi Museum Toleransi dan mempelajari aneka macam hal gres di sana.
Semua yang dilaksanakan Erin ini perlahan menjinjing pergeseran faktual dalam diri masing-masing siswa. Mereka jadi lebih jarang berantem dengan satu sama lain. Para murid itu mulai mengesampingkan sentimen antarras yang sebelumnya mengakar besar lengan berkuasa dan bahkan bersikap lebih ramah pada teman dari golongan sosial yang berbeda.

Sayangnya, rekan-rekan guru lain di sekolah itu nampak tidak setuju dengan cara pengajaran Erin yang berbeda tersebut. Termasuk di antara mereka yang tidak menggemari cara mengajar Erin ialah Margaret Campbell, kepala departemen di sekolah tersebut.
Hari-hari berubah dan tahun pertama Erin mengajar kelas istimewa itu pun rampung. Kini, dia bersiap untuk mulai mengajar lagi para siswanya yang sekarang telah naik ke kelas dua SMA itu.
Di hari pertama tahun pemikiran gres, Erin menyambut para siswa dengan cara menggelar suatu sesi interaktif dalam kelas yang dia beri nama “Toast for Change”. Para siswa diminta untuk mengungkapkan berbagai kesulitan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka, sekaligus menjelaskan pada seisi kelas ihwal apa yang ingin mereka ubah dari diri mereka.

Kelas Erin itu lalu berkerjasama mengumpulkan uang untuk menghadirkan salah satu sosok penting dalam sejarah Perang Dunia II, Miep Gies ke Amerika Serikat. Miep Gies kemudian menceritakan pada para murid Erin perihal pengalamannya menyembunyikan dan melindungi gadis kecil Yahudi bernama Anne Frank dan keluarganya dari Nazi pada kurun perang.
Di simpulan kunjungannya, Miep Gies mengatakan bahwa para murid itu bisa menjadi satria, dimulai dengan melakukan hal-hal yang kecil dan sederhana.
Kelas yang diajar oleh Erin menggerakkan hati Eva untuk mengatakan kebenaran dalam kesaksiannya di pengadilan. Meski dengan berbuat demikian, ia menyadari bahwa akan ada konsekuensi yang beliau terima dari keluarga dan lingkungan di sekitarnya.

Pada sidang pengadilan, Eva mengungkapkan bahwa Paco ialah orang yang menembak kekasih Sindy. Atas kesaksian Eva ini, Grant pun dibebaskan dari dakwaan pembunuhan. Sementara, Sindy yang mulanya memusuhi Eva sehabis insiden penembakan itu, karenanya memaafkan Eva.
Setelah pengadilan itu, Eva mendapatkan intimidasi dari kalangan sosialnya sendiri. Ia menerima bahaya dan serangan. Tetapi, jadinya mereka pun juga mengampuni Eva. Untuk alasan keselamatan, Eva kemudian pindah ke rumah bibinya.
Di kelas Erin, Erin berniat untuk mengumpulkan tulisan para siswa dalam buku harian mereka dalam sebuah buku yang ia beri judul The Freedom Writers Diary.
Meski begitu, Erin menghadapi banyak sekali kesulitan lain. Suami Erin karenanya menetapkan untuk menceraikan Erin. Sementara itu, Margaret juga tidak mengijinkan Erin untuk meneruskan mengajar bawah umur didiknya. Setelah menerima sumbangan budbahasa dari ayahnya, Erin mengajukan protes pada petinggi di sekolah.

Pada kesannya, Erin kembali dibolehkan untuk mengajar para muridnya di kelas istimewa itu. Banyak dari murid Erin itu yang di lalu hari lulus dan kuliah. Sebagian besar dari mereka menjadi generasi pertama di keluarga mereka yang sukses meraih jenjang pendidikan hingga sekolah tinggi tinggi.
Demikianlah ulasan dan sinopis film Freedom Writers yang dirilis pada tahun 2007.
Freedom Writers ialah film yang sangat inspiratif. Film ini kembali mengingatkan penonton tentang betapa besar kemampuan pendidikan dalam mengubah sebuah generasi. Ada juga banyak momen yang menggugah dan membuat kita merasa mudah untuk bersimpati dengan para tokoh dalam film ini.
Sumber foto: Paramount Pictures
Posting Komentar untuk "Review Profile Film Freedom Writers (2007), Usaha Seorang Guru"