Review Film Dolemite Is My Name (2019), Biografi Kocak Perihal Pelawak Sensasional Amerika Tahun 70-An
Orang-orang di zaman sekarang mungkin tak begitu familiar dengan nama Rudy Ray Moore. Namun, beberapa dekade kemudian, laki-laki kulit gelap itu merupakan salah satu bintang multitalenta yang berhasil di industri media hiburan Amerika Serikat. Namanya melejit sebagai produser sekaligus pemain drama utama dalam film miliknya yang berjudul Dolemite pada tahun 1975.
Kisah hidup Rudy Ray Moore yang begitu melegenda itu kemudian memberi gagasan Eddie Murphy, pemain film kulit hitam kawakan Hollywood yang pernah membintangi film-film populer mirip Beverly Hills Cop (1984), Dreamgirls (2006), dan Dr. Dolittle (1998). Pada 2003, beliau mengajak dua penulis naskah Scott Alexander and Larry Karaszewski untuk memulai proyek ini. Mereka bahkan telah sering melakukan konferensi dengan Rudy Ray Moore, yang kemudian menceritakan banyak dongeng hidupnya sebelum ia meninggal pada 2008.
Pengerjaan proyek ini terus tertunda hingga kesudahannya pada 2018, Craig Brewer dipastikan menjadi sutradara bagi film Dolemite is My Name. Seperti rencana permulaan, Scott Alexander and Larry Karaszewski menjadi penulis naskah untuk film ini.
Dolemite is My Name diproduksi lewat kerjasama antara Davis Entertainment dan Netflix. Film komedi ini menjadi bab dari buatan orisinal Netflix yang didistribusikan dan ditayangkan sendiri oleh streaming platform populer itu.
Mengambil penyesuaian dongeng hidup Rudy Ray Moore sepanjang dia meniti kesuksesannya, film Dolemite is My Name melibatkan lumayan banyak pemain film di dalamnya. Eddie Murphy berperan selaku abjad yang menjadi sentral dalam dongeng, Rudy Ray Moore. Kemudian, ada pula Da’Vine Joy Randolph yang berperan sebagai Lady Reed, Keegan-Michael Key sebagai Jerry Jones, Mike Epps sebagai Jimmy Lynch, Craig Robinson sebagai Ben Taylor, Tituss Burgess sebagai Theodore Toney, Wesley Snipes selaku D’Urville Martin, Aleksandar Filimonović selaku Joseph Bihari, Tip “T.I.” Harris sebagai Walter Crane, Chris Rock selaku Bobby Vale, dan Ron Cephas Jones sebagai Ricco.
Film Dolemite is My Name pertama kali dirilis di Festival Film Internasional Toronto pada 7 September 2019. Sejak perilisannya, film ini menerima banyak balasan faktual. Pada penyelengaraan Golden Globe Awards ke-77, film ini dinominasikan dalam kategori “Best Motion Picture – Musical or Comedy”. National Board of Review dan Time Magazine menyebut film berdurasi 118 menit ini dalam daftar 10 film terbaik tahun 2019 yang mereka rilis. Penampilan Eddie Murphy dalam film ini juga menuai pujian luas.
Berikut yakni sinopsis film Dolemite is My Name selengkapnya.
Sinopsis Film Dolemite is My Name (2019)
Di permulaan dongeng film Dolemite is My Name, nampak Rudy Ray Moore yang masih berada di titik permulaan karirnya sedang berupaya untuk meyakinkan seorang penyiar radio supaya bersedia untuk memutar album musiknya. Namun, Rudy mendapatkan penolakan.

Rudy Ray Moore diceritakan ialah seorang laki-laki kulit hitam yang tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat, pada tahun 1970-an dan berkhayal untuk menjadi artis terkenal. Sementara itu, Rudy bekerja selaku salah satu pegawai di sebuah toko kaset.
Ia juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pembawa program untuk tampilan temannya Ben Taylor dan kalangan musik Ben di sebuah kelab malam. Rudy sudah pernah menjajal untuk membujuk pemilik kelab malam agar memberinya sesi waktu tersendiri untuk menyajikan sebuah tampilan komedi, namun pemilik kelab malam itu menolaknya dan mengatakan bahwa peran Rudy hanya sebatas MC.
Suatu hari, saat Rudy sedang melakukan pekerjaannya di toko kaset, seorang gelandangan bernama Rico masuk ke dalam toko dan mulai membuat kericuhan. Rudy berupaya mengusirnya. Namun, Rico mulai menyerukan sejumlah syair berima berisi lelucon yang kocak. Sontak, para hadirin di toko kaset itu pun tertawa terpingkal. Rudy memberi Rico sejumlah duit biar ia mau keluar.
Tetapi, sementara waktu lalu, Rudy mulai menyadari bahwa beberapa dagelan Rico punya nilai komersial yang bisa digali. Dia pun mencari Rico di jalanan Los Angeles dan menginformasikan Rico untuk menghimpun semua sahabat-temannya yang andal membuat lawakan. Dengan imbalan sejumlah uang, Rudy lalu meminta para gelandangan itu untuk mengucapkan seluruh banyolan terlucu yang mereka tahu, dan lalu merekamnya. Dalam salah satu banyolan Rico, dia kerap menyebut kata “Dolemite”.
Rudy kemudian mulai menyusun beberapa leluconnya sendiri dengan berdasar pada syair para gelandangan. Ia diam-diam kemudian menyisipkan tampilan komedi-nya ini dikala sedang membawakan acara di kelab malam tempatnya lazimbekerja sebagai MC. Sambil mengenakan busana khas muncikari dan memegang tongkat, Rudy tampil gempar dengan memakai nama panggung “Dolemite”. Tanpa disangka, para penonton yang hadir malam itu tergelak alasannya agresi Rudy.
Rudy pergi menemui bibinya untuk meminta sejumlah duit selaku modal bagi dirinya untuk merekam agresi komedinya dan memproduksinya selaku suatu album komedi berjudul “Eat Out More Often”. Rudy lalu menjual albumnya secara langsung di jalanan. Album komedi-nya terjual laku dan segera menarik minatpara produser hiburan yang bersedia untuk menjual album Rudy ke toko kaset.
Rudy melakukan tur komedi di daerah Deep South untuk mengiklankan albumnya. Dia lalu bertemu dengan seorang wanita bernama Lady Reed yang berdasarkan pengamatan Rudy mempunyai potensi selaku komedian. Lady Reed pun bergabung sebagai bagian dari kalangan komedi Rudy.

Untuk merayakan kesuksesan penjualan album komedi Rudy, beliau dan teman-temannya pergi untuk menonton film berjudul The Front Page di bioskop. Tetapi, Rudy mengamati cuma penonton kulit putih yang merasa bahwa lawakan di film itu lucu. Ia juga menyadari bahwa sebagian besar penggemarnya selama ini juga orang kulit hitam.
Dari situ, Rudy melihat bahwa dia sudah memiliki basis penggemar di antara penduduk kulit hitam Amerika dan terinspirasi untuk melebarkan karirnya di bidang film. Ia ingin menciptakan filmnya sendiri dengan dirinya sebagai abjad utama berjulukan Dolemite.
Saat menyampaikan idenya ini pada beberapa produser film, mereka menolak permintaan Rudy. Ia lalu menemui produser album komedi-nya dan meminta peningkatan royalti untuk membiayai pengerjaan filmnya. Para produser itu setuju, dengan syarat bahwa kalau nantinya film Rudy gagal, maka Rudy mesti menebus hutangnya pada mereka tanpa menerima royalti lagi di sepanjang karirnya.

Rudy memulai proyek pembuatan filmnya dengan menemui seorang penulis naskah teater berjulukan Jerry Jones. Meski awalnya ragu dengan ide artistik Rudy yang absurd, Jerry oke untuk terlibat.


Rudy dan kawannya sedang berupaya menghimpun para pemeran untuk film tersebut, saat mereka bertemu dengan D’Urville Martin, seorang pemain film kulit hitam yang memainkan peran minor dalam film populer garapan Roman Polanski yang berjudul Rosemary’s Baby. Martin menolak usulan Rudy untuk bermain di filmnya. Tetapi, saat Rudy menawarinya peran sebagai sutradara, barulah Martin setuju.


Rudy dan kawan-kawannya yang tak bisa menyewa studio, lalu mengganti Hotel Dunbar, suatu hotel yang telah lama tak beroperasi sebagai lokasi syuting. Rudy lalu mengajak beberapa mahasiswa film dari UCLA untuk menjadi kru film-nya, termasuk Nicholas Josef von Sternberg yang bertindak selaku sinematografer.
Proyek pembuatan film Dolemite pun dimulai. Rudy menghendaki semoga filmnya tersebut memperlihatkan aksi kung-fu dengan abjad kulit hitam selaku sosok protagonis sentral dalam cerita. Proses produksi film tersebut nampak sangat konyol sebab meskipun filmnya mengusung genre aksi, Rudy sendiri sebenarnya sama sekali tak mengetahui ihwal bela diri. Hal ini kerap menciptakan Martin merasa kesal.

Walaupun kerap terganjal dengan duduk perkara ongkos buatan, film tersebut pun karenanya berhasil dibentuk. Martin, yang dari awal memandang rendah proyek berbiaya rendah itu kemudian secepatnya mengundurkan diri begitu film simpulan dibuat. Sebelum pergi, ia menyampaikan bahwa film murahan Rudy tak akan pernah mendapatkan penonton.
Setelah proses buatan film simpulan, Rudy berusaha memperlihatkan filmnya pada beberapa perusahaan distributor film. Namun, tak ada perusahaan yang bersedia berbelanja film Dolemite. Rudy pun kembali menjalani profesinya selaku pelawak.
Suatu hari, saat melakukan wawancara di suatu stasiun radio di Indiana, penyiar radio kemudian menanyakan pada Rudy kapan kah tanggal rilis dari film yang akan dibuat Rudy. Rudy yang merasa malu dan duka karena proyeknya yang gagal, tak bersedia menjawab pertanyaan itu. Ketika siaran selsai, Rudy gres menerangkan apa yang bergotong-royong terjadi.
Penyiar radio itu lalu menawarkan pertolongan pada Rudy melalui pamannya yang ialah pemilik suatu bioskop setempat di Indiana. Setelah menemui pemilik bioskop tersebut dan membuat akad, film Dolemite pun dirilis secara lokal dan independen. Rudy menggeluti langsung di jalanan untuk memasarkan tiket filmnya.
Di malam pembukaan, tanpa disangka , banyak orang yang datang untuk menonton film Dolemite. Film itu pun menjadi salah satu film dengan pengunjung paling ramai di bioskop setempat tersebut.
Melihat kesuksesan Dolemite di Indiana, perusahaan distributor film Dimension Pictures yang sebelumnya menolak film Dolemite kemudian memanggil Rudy dan mitra-kawannya untuk datang ke kantor mereka. Di sana, Dimension Pictures memperlihatkan kontrak kerjasama untuk merilis film Dolemite di bioskop-bioskop seluruh Amerika Serikat.

Seperti kesuksesan film Dolemite di Indiana, film itu juga ternyata berhasil menuai antusiasme besar ketika hendak dirilis secara luas. Sebagai bab dari promosi film Dolemite, Rudy dan kawan-kawannya menghadiri pembukaan utama film Dolemite.

Rudy dan kawan-kawannya yang awalnya bukanlah siapa-siapa, malam itu berkendara dengan memakai mobil limo glamor. Di dalam kendaraan beroda empat, mereka membicarakan wacana ulasan terhadap film Dolemite yang telah dipublikasikan di beberapa media. Tetapi, ternyata sebagian besar kritikus memberi penilaian negatif terhadap film Rudy. Rudy pun berusaha menghibur mitra-kawannya yang duka dan meminta mereka untuk tidak peduli apa yang ditulis oleh para kritikus.
Ketika mereka sampai di gedung tempat penyelenggaraan program, tampakkerumunan orang dalam jumlah banyak telah menanti kedatangan Rudy dan kawan-kawannya. Mereka keluar dari kendaraan beroda empat dan disambut dengan semarak oleh para penggemar Rudy.
Kawan-kawan Rudy segera memasuki ruangan pemutaran film. Namun, menyaksikan antusiasme para penggemar yang sebagian besar tidak mampu ikut masuk, Rudy menetapkan untuk tidak mengikuti acara utama dan justru menghibur para penggemarnya yang berada di luar itu.

Demikianlah sinopsis film Dolemite is My Name. Setelah membaca sinopsis diatas, apakah kalian menyukainya? Jika iya, jangan lupa untuk menambahkannya ke dalam list film yang wajib ditonton untuk menemani waktu rebahan kalian.
Sumber foto: Netflix
Posting Komentar untuk "Review Film Dolemite Is My Name (2019), Biografi Kocak Perihal Pelawak Sensasional Amerika Tahun 70-An"